CERPEN
KAKAK
By Fatimah Zahra Rahman IXA
Di suatu pagi yang cerah, Dina bersiap untuk pergi ke
sekolah, setelah sarapan dia bergegas minta diri kepada Ibunya. Ibunya hanya tersenyum
menyambut uluran tangan Dina tanpa mempertanyakan keberadaan Ani, kakak Dina.
Wanita setengah baya itu sangat memahami karakter kedua putrinya.
Dina berjalan ke sekolah sendirian tanpa
sang kakak mengiringi langkahnya. Rasa sepi menyelimuti hati siswa kelas IX itu setelah
pertengkaran kemarin. Dina-lah yang
memulai. Kakak adik yang kadang seperti gelas kaca yang berdekatan saling
berbenturan, suara nyaringnya begitu gaduh. Tapi setelah berpisah mereka saling
kehilangan untuk bersama.
Saat itu malam senin, Ani di depan meja rias
sambil bersiap untuk keluar. ‘’Din, PR
kamu udah selesai belum?’’ Tanya Ani saat melihat adiknya hanya bermain ponsel
di atas kasur. Beberapa saat Ani menunggu reaksi dari Dina, tapi adiknya cuek
seperti tak mendengar, ekpresinya cengar-cengir mengamati video lucu.
“Dina…Din!!”
Ani mengeraskan suaranya.
”Iihhh…… gak bisa aku Kak!’’ jawab Dina dengan
ekpresi jengkel
‘’Awas lho Din, besok dihukum Pak Budi!’’ ucap
Ani sedikit gusar dengan sikap adiknya yang suka cuek dengan tugas sekolah.
Dina tak peduli peringatan kakaknya, dia terus asik menonton video. Ani
geleng-geleng melihat tingkah adiknya.
“Kamu yakin siap dihukum Pak Budi?” Ani kembali mengingatkan
adiknya.
‘’Aku tuh mau minta diajari
ibu,ibu sibuk, ayah? apalagi ayah!’’
’’Kamu ga
minta belajar bareng sama Nala?’’ Ani memberi solusi untuk belajar dengan
temannya.
‘’Gak!!, Kakak nyebelin!” jawab Dina ketus.
Ani hanya tersenyum mendengar kata-kata adiknya “Oke, kakak pergi dulu ya,
selesaikan tugasmu!”Ani melangkah meninggalkan Dina yang masih diatas kasur
dengan ponsel di tangannya.
*******
Seminggu berlalu, Dina masih belum menyelesaikan tugas
portopolio dari Pak Budi. Dan tiba wakunya Tubuh Dina berdiri tegak dengan satu
kaki diangkat dan telapak tangan kanannya berada di pelipis posisi hormat
kepada bendera.
‘’Dina, ini
konsekuensi yang harus kamu tanggung jika tidak mengerjakan tugas‘’ ujar Pak
Budi bernada hukuman, matanya menatap
waspada keaarah Dina yang memandang hanya dengan ekor matanya. Dina ingin
sekali menurunkan sebelah kakinya ke tanah dan berlari meninggalkan lapangan,
tapi apalah daya dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya akibat tidak
mengerjakan tugas.
‘’ Iya Pakkk!!’’ jawabnya terpaksa. Pak Budi
berjalan beberapa langkah, tapi beliu kembali mendekati Dina yang masih belum
bergeming dari posisi semula.
‘’Nanti jam
kelima kamu baru bisa masuk kelas!’’ kata Pak Budi
‘’Kok lama sekali sih
Pak?!” kata Dina memelas. Pak Budi melangkah pergi menuju ruang kelas, tampak
tak peduli dengan ucapan siswi bengalnya itu. Terik mentari merayap tinggi,
sengatannya menjadi semakin menusuk kulit muka Dina, butiran kristal cair
merambat pelan di dahi dan tubuhnya.
*****
Kriiiiingggg, bel
pulang sekolah berbunyi, ruang kelas terdengar gemuruh salam penutup, tanda
pembelajaran di kelas telah berakhir. Para siswa dan Guru kemudian bergerak
menuju tempat parkir, dan tak lama kemudian mereka kembali keluar meninggalkan
halaman sekolah. Tapi ada sebuah ruangan yang
di depannaya masih ada tiga pasang sepatu. Dua pasang sepatu sekolah dan
satu pasang sepatu guru.
“Kakak?!”
Dina terkejut, Ani berada di samping tempatnya berbaring sambil tersenyum.
“Syukurlah kamu sudah siuman” ucap Ani lega. Dina masih tak percaya dengan
pemandangan sekelilingnya, sejak duduk di bangku SMP baru hari itu dia
terbaring di dipan UKS.
“Kamu tadi
pingsan saat di hukum di lapangan, ibu tak bisa datang karena perjalanan penting,
jadi memintaku menjemputmu” ungkap Ani, Dina tertegun mendengarkan ucapan
kakaknya. Dina merasa bersalah, karena sejak kecil Ani-lah yang menggantikan
peran orang tuanya yang seringkali pergi ke luar kota untuk bekerja.
“Maafkan aku
ya Kak?!”Dina bangun dan memeluk tubuh kakaknya. Dua gadis itu sesaat
berpelukan. Bu Yuli wali kelas Dina tersenyum sambil mengelus bahu kedua gadis
muda itu.
“Kejadian
ini sudah diketahui kepala sekolah Ani, Pak Budi sudah mendapatkan teguran
untuk tidak memberi sangsi fisik yang berlebihan ketika siswa melanggar
tanggungjawabnya”papar Bu Yuli. Ani sangat mengerti dan berterima kasih. Tak
lama kemudian Ani membawa adiknya keluar dari ruang UKS.
Perlahan
motor Ani melaju pelan meniggalkan sekolah Dina yang sudah sepi. Mendung mulai menutupi matahari yang tadinya
sangat terik di pagi hari. Rintik hujan mulai turun, dan berubah semakin deras.
Ani membelokkan motornya ke sebuah pos kampling. Mereka duduk berdampingan
menunggu hujan reda. “Bagaimana kabar Randa Kak, apakah kalian sudah baikan?”
Kata Dina.
“Hah..
sudahlah jangan membicarakan dia!”
“Kenapa?
Apakah Kakak putus gara-gara aku meletakkan foto Mas Bagas di buku yang kakak
pinjam dari Randa? Bukan maksudku begitu Kak, habis kesel banget ketika Kakak
tidak ada saat aku butuh, tapi memilih pergi dengan Randa” Ani terdiam
mendengar pernyataan adiknya. Dina semakin merasa bersalah dengan sikap
kakaknya yang terlihat sedih. Beberapa saat mereka tenggelam dengan perasaan
masing-masing. “Kak, beneran kalian putus gara-gara aku?”Dina masih penasaran.
“Ïiiih…Kamu
nggak peka banget sih Din, nggak harus semua dijawab dengan kata-kata tau?!,
tapi dari situ aku jadi tahu kalau sebenarnya Randa itu tidak tulus, dia tidak
mempercayai kata-kata kakakmu ini! Sudahlah kita pulang yuk, hujannya sudah
reda, Ini kamu pakai mantelnya biar kamu nggak tambah sakit”Ani mengulurkan
mantel satu-satunya itu ke depan Dina, dia memilih hanya memakai helm.
Motor Ani
melaju pelan di jalanan yang basah,
rintik hujan kecil masih turun, Dina mendekap pinggang kakaknya. Ani terus
mengemudikan tanpa kata hingga tiba di rumahnya yang masih terlihat sepi. Dina
kini semakin mengerti Kakaknya adalah saudara kandung yang paling berharga di
dunianya.
*****TAMAT*****
Komentar
Posting Komentar